Dalam sebuah talkshow di sebuah radio swasta, James Gwee (Direktur Academia Education & Training) pernah mendapat pertanyaan berupa sebuah kasus di sebuah perusahaan. Si penanya adalah seorang manajer penjualan dari perusahaan tersebut, dan dia oleh manajemen hanya diberikan satu KPI (Key Performance Indicator) yaitu yang berhubungan dengan jumlah penjualannya. Dia harus bisa mencapai angka target penjualan tertentu dalam di setiap bulannya, no matter what it takes. Akhirnya manajer tadi berpikiran bahwa untuk mencapai target tersebut, dia harus merekrut banyak sales person. Semakin banyak dia rekrut, maka hasil penjualan akan semakin tinggi. Sebuah logika yang cukup masuk akal. Setiap kali penjualannya menurun, dia akan merekrut dan merekrut lagi. Bisa dibayangkan berapa banyak sales person yang dimilikinya.
Permasalahannya, si manajer ini tadi merasa bahwa apa yang dia lakukan tidak tepat. Memang dari sisi perusahaan melihat bahwa apa yang sudah dicapainya sempurna, karena target penjualan selalu terpenuhi. Tapi kalau kita coba tengok lebih dalam dari sisi produktifitas sales person, apakah juga sempurna? Jumlah sales person yang meningkat, otomatis akan menurunkan rasio produktifitas. Jika ada dua perusahaan yang sama-sama menghasilkan Rp 100 juta per bulan, tapi perusahaan pertama bisa mencapainya dengan hanya 10 orang sales person, sementara yang lainnya mencapainya dengan 100 orang sales person, maka bisa dilihat mana yang produktifitasnya paling tinggi. Tentu saja perusahaan pertama, karena dia memiliki rasio produktifitas Rp 10 juta per orang, sedangkan perusahaan kedua hanya memiliki rasio Rp 1 juta per orang.
(more…)