Maninova adalah singkatan dari Manajemen Inovasi. Dalam artikel kali
ini, kita akan sajikan tentang bagaimana sebuah perusahaan mengelola
Inovasi sehingga berjalan dengan baik. Dalam slide terdahulu disini,
kita telah sedikit membahasnya, dan tulisan ini akan melengkapinya.

Dalam keseharian kita banyak sekali kondisi yang memaksa kita untuk
mengerjakan sesuatu atas dasar “harus” di kerjakan secepatnya, tanpa
plan, tanpa dipikirkan dulu dan memakai istilah “buru-buru”. Kita
dihadapkan atas situasi yang mendesak, selalu, yang membuat kita mau
tidak mau mengerjakannya. Namun apakah benar hal itu betul se-mendesak
itu, sehingga kita harus melupakan hal-hal yang “penting”?

(more…)

Dalam sebuah talkshow di sebuah radio swasta, James Gwee (Direktur Academia Education & Training) pernah mendapat pertanyaan berupa sebuah kasus di sebuah perusahaan. Si penanya adalah seorang manajer penjualan dari perusahaan tersebut, dan dia oleh manajemen hanya diberikan satu KPI (Key Performance Indicator) yaitu yang berhubungan dengan jumlah penjualannya. Dia harus bisa mencapai angka target penjualan tertentu dalam di setiap bulannya, no matter what it takes. Akhirnya manajer tadi berpikiran bahwa untuk mencapai target tersebut, dia harus merekrut banyak sales person. Semakin banyak dia rekrut, maka hasil penjualan akan semakin tinggi. Sebuah logika yang cukup masuk akal. Setiap kali penjualannya menurun, dia akan merekrut dan merekrut lagi. Bisa dibayangkan berapa banyak sales person yang dimilikinya.

Permasalahannya, si manajer ini tadi merasa bahwa apa yang dia lakukan tidak tepat. Memang dari sisi perusahaan melihat bahwa apa yang sudah dicapainya sempurna, karena target penjualan selalu terpenuhi. Tapi kalau kita coba tengok lebih dalam dari sisi produktifitas sales person, apakah juga sempurna? Jumlah sales person yang meningkat, otomatis akan menurunkan rasio produktifitas. Jika ada dua perusahaan yang sama-sama menghasilkan Rp 100 juta per bulan, tapi perusahaan pertama bisa mencapainya dengan hanya 10 orang sales person, sementara yang lainnya mencapainya dengan 100 orang sales person, maka bisa dilihat mana yang produktifitasnya paling tinggi. Tentu saja perusahaan pertama, karena dia memiliki rasio produktifitas Rp 10 juta per orang, sedangkan perusahaan kedua hanya memiliki rasio Rp 1 juta per orang.

(more…)

“Jadi target tahun ini adanya peningkatan Productivity (UPH) 30%, dan juga peningkatan kualitas 50%, dan saya mengharapkan kerjasama dari semua departemen untuk mencapai target ini minimal di Quarter III” demikian sambutan dari Vice President hari itu pada saat awal mula pembukaan tahun baru.

Pada awal tahun, sudah menjadi kebiasaan, seorang Top Management mengungkapkan apa saja yang menjadi arahan umum kebijakan dan target. Tidak semua karyawan bisa memahami arahan yang global dari seorang Top Management. Saat berbicara dari sisi bisnis, penerapan kepada aktivitas harian perlu dijabarkan lebih detail.

(more…)

Dalam perjalanan hidup kita, tidak ada itu yang namanya “karpet ajaib”, yang bisa membawa kita dengan mudah dan cepat menuju tujuan dan cita-cita kita. Kita harus berjalan dengan kedua kaki kita, selangkah demi selangkah. Tak jarang kita berpikir sepertinya mustahil untuk melewati jarak yang begitu jauhnya dengan langkah-langkah kecil kita. Bahkan mungkin kita mulai berpikir bahwa kita tidak akan pernah mencapai sesuatu yang besar jika hanya bergantung pada cara seperti ini. (more…)

Pernahkah anda di tugaskan untuk memilih mana karyawan yang paling tinggi performancenya?

Bila anda seorang bos, mungkin bisa lebih mudah melakukannya apabila terdapat gap kontribusi KPI yang diberikan membernya, sehingga hanya terlihat beberapa member
saja yang bersinar di mata atasannya.

Kasus lain menunjukkan semua member KPI performance-nya sama-sama achieve 100%, bagaimana seorang atasan menentukan mana yang layak dari membernya mendapat predikat karyawan terbaik, maka kemungkinan yang terbersit di dalam pikiran atasannya adalah member yang menunjukkan loyalitas dan hasil tugas lebih dari yang di minta dan mempunyai sikap kerja yang baik, dan value seperti ini susah untuk dilakukan pengukuran sehingga yang timbul adalah “subyektifitas yang obyektif”.

Jadi seobyektif apapun anda membuat sistem pemilihan karyawan terbaik, ujung-ujungnya akan jadi “subyektif yang obyektif” bila kasus yang dihadapi seperti di atas.

:: Gambar ilustrasi dipinjam dari sini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.